Edisi Shafar 1434 H .part 3

Memahami Esensi Perayaan “Tahun Baru

Assalamualaikum..
Apa Sobat  pernah denger keterangan
dari salah satu ustadz yang ngelarang kita buat ngrayain
tahun baru, sebetulnya hukumnya gimana si? Kalau
memang tidak boleh apa alasannya ?


Supaya nggak bingung dan kita bisa memahaminya dengan obyektif  mari kita pelajari dulu ada  apa sih di tanggal 1 Januari sampe dirayain rame-rame gitu?
Sekilas tentang  Tahun Masehi Penetapan awal tahun masehi merujuk pada tahun
yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa As (walaupun hal itu sama sekali nggak pernah terbukti). Selain masehi, istilah lain untuk kalender ini adalah Christ
(Inggris: Kristus), Common Era (CE)  dan Anno Domini  (Latin: Tahun Tuhan kita). 

Dan untuk  menyebut tahun sebelum masehi biasanya digunakan istilah Before Christ (BC), Before Common Era (BCE), atau Sebelum Masehi (SM). 

Asal usul Kalender Masehi diambil dari kalender kuno Bangsa Romawi, awalnya orang romawi Cuma punya sepuluh bulan yaitu :
1. Martius (Maret)
2. Aprilis ( April ),
3. Maius ( Mei),
4. Junius ( Juni),
5. Quintilis (Juli),
6. Sextilis , Agustus),
7. September (September),
8. October (oktober),
9. November (Nopember),
10.December (Desember).

Martius artinya Dewa Mars,
Maius artinya Dewa Maya,
Junius artinya Dewa Juno

astaghfirullah…
Mulut kita ternyata sering juga yah ngucap dewa-dewa zaman dulu. Terus Aprilis diambil dari kata Aperiri (cuaca yang nyaman di musim semi), sedangkan nama-nama Quintrilis, Sextrilis, September, October, November dan December adalah nama yang diberikan berdasarkan angka urutan susunan bulan. Quntrilis berarti bulan kelima, Sextilis bulan keenam, September bulan ketujuh, October bulan kedelapan dan December bulan kesepuluh. Kalender yang terdiri dari sepuluh bulan ini akhirnya berkembang menjadi 12 bulan, dengan penambahan bulan Januarius yang diambil dari nama dewa Janus yang punya dua muka, ke depan dan ke belakang, jadi bisa liat masa lampau dan masa depan makanya dijadikan awal tahun. Terus juga Februarius diambil dari upacara Februa, semacem upacara bersih-bersih desa nyambut musim semi. Banyak kekacauan yang terjadi gara-gara  penambahan ini. Bayangin aja, bulan Quintrilis yang artinya “bulan kelima” gara-gara penambahan ini jadi bulan ke tujuh, Sextris “yang ke tujuh” jadi kedelapan dan seterusnya.

Bukan hanya itu, gara-gara nggak ada aturan yang jelas, kaya aturan kabisat dan lain-lain, kalender ini banyak meleset. Sampai akhirnya di tahun 47 SM, kemelesetan itu mencapai tiga bulan. Kemudian dalam kunjunganya ke Mesir pada tahun 47 SM, Julius Caesar sempat menerima anjuran dari Sosigenes ahli perbintangan Mesir untuk memanjangkan tahun 46 SM menjadi dari 365 hari menjadi 445 hari dengan
menambah 23 hari pada bulan Februari dan menambah 67 hari antara bulan November dan Desember. Bukan hanya itu, julius Caesar juga bikin aturan baru mengenai kalender romawi, yaitu bahwa setaun ada 365 hari dan setiap empat taun sekali umur tahun bukan 365 tapi 366 dan disebut Tahun Kabisat. Setelah tahun itu perjalanan tahun kembali cocok dengan musim, untuk menghargai jasanya maka bulan ke tujuh, Quintrilis diganti jadi bulan Julio atau sering kita sebut Juli. Kemudian untuk mengenang Kaisar Augustus bulan kedelapan Sextilis diubah menjadi Augustus. perubahan itu diikuti dengan menambah umur bulan Augustus menjadi 31 hari, karena sebelumnya bulan Sextilis umurnya 30 hari saja, penambahan satu hari itu diambilkan dari bulan Februari, karena itulah bulan Februari  umurnya hanya 28 hari atau 29 hari pada tahun kabisat. Kalender Julian yang dah keliatan apik ini lama-lama keliatan meleset juga, kalau dulu musim semi
mundur sampe 3 bulan sekarang malah kecepetan beberapa hari. Kemelesetan itu terjadi sebab revolusi bumi yang dikira 365.25 hari, ternyata sebenarnya 365 hari, 5 jam, 56 menit kurang beberapa detik, yah meski bedanya Cuma beberapa menit setahun tapi kalau sudah berjalan ratusan tahun akhirnya jadi keliatan juga. Untuk mengatasinya, Paus Gregious XIII pimpinan Gereja Katolik di Roma pada tahun 1582 melakukan koreksi dan bikin beberapa keputusan. Pertama angka tahun yang diakhiri dua nol jika tidak bisa dibagi 400 maka bukan lagi tahun kabisat, kedua
karena darurat tahun 1582 ada pengurangan 10 hari, pada bulan oktober 1582, setelah tanggal 4 oktober langsung ke tanggal 14 oktober (makanya kalian ga bakal nemu orang yang lahir tanggal 5-13 oktober 1582). Ketiga 1 januari ditetapkan sebagai tahun baru lagi, setelah sebelumnya rahib Katolik, Dionisius Exoguus di tahun 527 M menetapkan 25 Maret sebagai tahun baru karena meyakini bahwa Nabi Isa. As (Yesus) lahir pada 25 Maret di permulaan musim semi. Begitulah kalender ini berjalan hingga kini. Jadi, tahun baruan boleh enggak?
Sudah keliatan jelas kan?,
ternyata satu januari itu merupakan salah satu rangkaian hari raya kristiani yang ditetapkan oleh Paus Gregious XIII di tahun 1582, nama tahunnya aja Anno Domini (Latin: Tahun Tuhan kita). Kalau begitu buat apa kita ikut-ikutan ngrayain?
Di Amerika Serikat, umumnya perayaan ini dilakukan pada tanggal 31 Desember malam, di mana orang-orang pergi ke pesta dan berkumpul, atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York. Pada saat lonceng tengah malam berdentang, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan, orang-orang
menyerukan “Happy New Year” dan menyanyikan lagu Auld Lang Syne.
Orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, Dewa Pintu dan semua permulaan. Nah kalau gitu umat Islam yang ngerayain tahun baru sama aja dengan ikut merayakan salah satu hari raya kristiani. Padahal Rasulullah kan pernah bilang  :

 

Artinya :
“Barang siapa serupa dengan sesuatu kaum maka orang tersebut sama
dengan yang di serupai.”

Kalau sobat Muslim ikut ngeramein tahun baru tu sama aja dengan ngikut kaum kristiani. Hukumnya haram merayakan tahun baru agama lain tapi tidak menjerumuskan kepada kekafiran selama kita tidak perasaan ridho dengan mereka, akan tetapi jika kita ridho dengan mereka atau ridho dengan agama mereka maka kita bisa terjerumus kepada kekafiran. Naudzubillah min dzalik..
Dan barang siapa yang merayakannya maka dia telah menyerupai kaum-kaum yang nggak jelas juntrungnya. Berkaitan dengan ini Ibn Haaj berkata, 

“Haram bagi muslim untuk menjual sesuatu apapun yang dibutuhkan kepada seseorang non muslim untuk perayaan tahun barunya, baik berupa daging, lauk pauk, baju dan lain-lain. Begitu juga tidak boleh bagi muslim meminjamkan alat keperluan untuk perayaan tahun baru karena hal tersebut termasuk membantu syiar kekufuran mereka. Dan wajib bagi pemerintah untuk melarang kaum muslim melakukan hal ini.
Kesimpulan
Kalau kita sebagai muslim juga punya Tahun baru, ada apa kita ikut-ikutan ngrayain tahun barunya agama lain?

Better duduk di rumah, istirahat sambil kumpul sama keluarga dan isi waktu dengan
kegiatan-kegiatan positif,lebih manfaat bukan?
Sebagai seorang muslim kita mempunyai tugas untuk mengangkat tinggi syiar dan simbol-simbol Islam. Ironisnya saat ini kebanyakan kita sudah melupakan hal ini. terbukti saat ini kita lebih familiar dengan segala hal yang berbau western. Kita banyak melupakan tokoh-tokoh penting dalam Islam, namun kita justru begitumengenal dan mengidolakan figur-figur yang mungkin sangat jauh dari kategori layak untuk kita jadikan sebagai idola. Bahkan hingga masalah penanggalan pun kita lebih mengenal kalender masehi dari pada kalender hijriah. Ada apa dengan umat Islam??

Mari kita perdalam lagi keislaman kita, kita hidupkan kembali syiar-syiar Islam.
Semoga Allah SWT senantiasa menuntun langkah kita untuk selalu lurus patuh terhadap aturan Allah SWT dan berpegang teguh pada Sunnah Rasulullah SAW, sehingga kita termasuk golongan orangorang yang mencapi kebahagiaan hakiki. amiin.


Rabu, 27 Maret 2013
Posted by as shofwah

Edisi Shafar 1434 H .part 2

Selamat Natal !!
Boleh kah??


Assalamualaikum Wr.Wb. Ingatkah sobat ketika pada saat  kita masih sekolah dulu, kebetulan teman-teman dan guru di sekolah kita tidak semuanya muslim. Saat idul fitri kemaren mereka rame-rame mengucapkan selamat Idul Fitri kepada kita, dan ketika mereka merayakan natal bolehkah kita mengucapkan SELAMAT NATAL kepada mereka?

Selamat Natal !!!
Emang apa sih salahnya ngucapin selamat natal? Kan hati kita tetep yakin bahwa Islam itu benar,  lagipula itu kan bentuk toleransi..  apa sih efek dari ucapan yang kecil itu??

Barangkali itu yang terbesit di hati sobat ketika datang hari natal.. pas lebaran, kaum nasrani bilang selamat lebaran, eh..  pas natal masa kita ga bales, kaya ga tau terima kasih aja.. (iya nggak?).

Toleransi, Memang kita banyak nggak faham tentang adab gaul ama orang di luar agama kita. Islam mengajarkan kita untuk toleran, menjaga harta dan jiwa kaum kafir dzimmi (non muslim yang tidak memerangi islam dan tunduk pada  pemerintahan islam).
Lihat deh..
betapa  berat ancaman yang disabdakan Rasul bagi  yang mengganggu kafir dzimmi tanpa sebab. Dalam suatu hadits disebutkan :

 
Artinya :
“Barang siapa yang membunuh seorang mu`ahad (kafir yang memiliki perjanjian keamanan dengan islam) maka ia tidak akan mencium wangi surga, dan
sesungguhnya wangi s urga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan
(HR B ukhari, 5914)

Waah kalau nyium bau surga aja nggak, lha terus gimana mau masuk surga? manakutkan to?? Dalam berinteraksi dengan non muslim kita tetep dianjurkan berbuat baik, bahkan kalau perlu jenguk mereka ketika mereka sakit, silaturahim ke rumah mereka, ngelayat, jual beli, dan muamalah lain bersama mereka, tapi ada juga batesan toleransi itu, seperti larangan ngucap salam, doa dan hal-hal lain yang berhubungan dengan agama. Batasan ini ada karena kita dituntut untuk tidak meridhai kekafiran, karena ridho dengan kekafiran sama artinya dengan ridho jika Allah disekutukan di muka bumi.
Apa Itu Natal !!!
Natal diyakini oleh penganut Nasrani sebagai hari kelahiran Yesus yang dalam Islam disebut Nabi Isa as. Setiap muslim yakin bahwa Nabi Isa adalah hamba Allah. Sesuai dengan pengakuan Nabi Isa dalam Al Quran :


hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam :30)
Tapi Anggapan kaum nasrani mengenai Nabi Isa nggak sama dengan pandangan kita, mereka yakin Nabi Isa (Yesus) adalah anak Tuhan. Yakin bahwa Tuhan punya keturunan adalah bentuk kekufuran yang nyata dan melenceng jauh dari faham tauhid yang kita yakini. Lagi pula sebenarnya nggak ada yang tahu secara pasti kapan Nabi Isa lahir, pengambilan tanggal 25 desember sebagai hari lahir Isa sendiri, mereka ambil dari adat kaum penyembah berhala, perayaan Brumalia (25 Desember) merupakan perayaan kaum kafir pagan sebagai lanjutan perayaan Saturnalia (17-24 desember). Perayaan ini dibikin deket akhir tahun buat nyambut
matahari baru.

Versi lain menyatakan begini, perayan ini berawal, pada waktu itu para pastur umat
katholik memasuki wilayah Romawi (yang waktu itu menyembah dewa dan berhala) untuk mengajarkan misi gerejanya. Namun mereka tidak mendapat sambutan positif, mereka menolak ajaran katholik dengan alasan mereka takut
kehilangan perayaan pesta akhir tahun yang mereka rayakan setiap tanggal 25 Desember untuk merayakan lahirnya dewa matahari. Penolakan mereka terhadap katholik mendapat solusi karena mereka berhasil mengajak kaisar Konstantin yang waktu itu menjadi penguasa untuk memeluk Agama Katholik. Kemudian hal ini berubah menjadi kepentingan politik Romawi untuk menjajah Jerman (panjang kalau kita mbahas tentang ini), kemudian dengan tegas Kaisar Konstantin menyatakan kepada rakyatnya bahwa tidak ada alasan untuk menolak katholik, karena Yesus pun juga dilahirkan pada 25 Desember sebagaimana Dewa Matahari. (Nah lo)..

Mendengar hal ini umat romawi pun berduyun-duyun memasuki katholik, mereka
berkesimpulan bahwa Yesus adalah keturunan Dewa Matahari. Makanya semua atribut Dewa Matahari saat ini juga digunakan menjadi atribut Yesus. Salah satunya,
coba kamu perhatikan patung salib Yesus, di belakangnya ada semacam bentuk lingkaran, tau nggak apa maksudnya?? Itu adalah simbol dewa Matahari, dan banyak lagi simbol lainnya.
Nah.. Mulai saat itulah gereja Roma menyatakan bahwa tanggal 25 Desember adalah
hari Perayaan Natal yang mereka tetapkan sebagai hari raya. Padahal, al kitab (bibel) mereka sendiri nggak pernah ngajarin Perayaan model gini. Di buku Catholic Encyclopedia edisi 1911, dalam judul “Christmas” tertulis begini, “chritsmas was not among the earliest festivals of church? The first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calend gravitated to Christmas” “Natal bukanlah di antara upacara-upacara awal gereja, Bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.” wah wah wah,,, ternyata gitu ya.

Terus gimana hukumnya ?
Begini sobat muslim, kalau dalam Kristen yang asli sendiri nggak terbukti ada yang
namanya natalan, terus apa perlunya kita ngucapin selamat natal ?

Kalaupun mereka tetep ngotot meyakini itu sebagai hari lahir Tuhan mereka (Karena ikut pandangan kaum pagan) tetep aja, kita dilarang ngucapin selamat natal. Memang kebanyakan sobat menganggap ini adalah hal yang sepele, tetapi meskipun keliatan remeh ternyata ucapan itu memiliki implikasi yang besar. Ketika kita ngucapin “selamat natal” pada seorang nasrani, ia akan merasa pandangannya diakui, berarti secara tidak langsung kita telah mendukung pandangan mereka (yang yakin tuhan punya anak). Bahkan jika ucapan tersebut secara sadar dibarengi dengan keridhaan pada pandangan mereka, ini bisa menghantarkan pengucapnya kepada kekafiran (Naudzu Billah), karena ridho dengan kekufuran adalah kufur.. Ngucapin selamat natal juga merupakan bentuk tasyabuh (menyerupai) mereka, padahal Rasulullah pernah bersabda :

 

 “Setiap orang yang meniru-niru suatu kaum, maka orang tersebut termasuk di dalamnya.” (HR Abu Dawud, 4033)

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda :


”Setiap orang yang meramaikan suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut,
dan barangs iapa yang ridho dengan perbuatan seseorang maka ia bersekutu
dalam amalnya” (HR Dailami, 5621)


Kalau kita ikut ramein Natal berarti kita dianggap sama dengan mereka, atau kalau kita ridha dengan perayaan natal berarti kita dianggap sama dengan orang yang ngerayain natal itu sendiri. Ada ga sih yang rela begitu?
Kesimpulan
“Tapi kan nggak enak ama temen-temen?” Coba tanyakan pada hati kamu, yang kamu cari tuh ridha Allah atau ridha makhluk? Jelas dong kita harus lebih mendahulukan Ridha Allah daripada ridha mahkluk meskipun itu orang-tua kita. Apalagi ridha orang yang berada di luar agama kita. Coba renungkanlah hadits berikut :

 
Artinya :
“Seorang hamba berbicara dengan perkataan yang diridhai Allah ia anggap remeh, kemudian Allah mengangkat derajatnya, dan seorang hamba berbicara dengan
perkataan yang dimurkai Allah yang ia anggap remeh kemudian ia dimasukkan ke dalam neraka” (HR Bukhari, 113)

Nah.. dari sini semua perbuatan kita harus dimulai, setiap kata dan perbuatan yang mau dilakukan seharusnya kita Tanya dulu di hati kita masing-masing.
Apakah Allah ridho kalau kita katakan hal itu?
Apakah Allah ridho kalau kita melakukannya?

Sadarilah wahai sobat muslim, saat ini kita memang sedang menjadi sasaran utama program-program westernisasi, mulai gaya hidup, bersikap, pola pikir bahkan
masalah berkeyakinan pun mereka mencobamempengaruhi kita. So.. mari kita koreksi lagi
bagaimana sikap dan pemikiran kita sebagai
muslim selama ini, jangan sampai kita terombang-
ambing oleh ombak-ombak yang tidak
kita sadari ini.

Semoga Allah SWT senantiasa menuntun
langkah kita untuk selalu lurus mengikuti
ajaran-Nya.amiin.


Posted by as shofwah

Edisi Shafar 1434 H .part 1

Pacaran Dalam Prespektif Islam

Pernah nggak liat orang pacaran ? berduaan, bergandengan tangan, saling bercanda?
apa yang kalian rasakan ?”. “Hmm... Aku marah !!”, salah satu sobat menjawab. “Kenapa ?” , “Gimana nggak marah.. Udah tau aku jomblo, eh pamer-pamer kemesraan.. ga toleran bener tuh orang ”, “Tuing !!!… salah broo !!!, harusnya kita marah karena mereka berbuat salah Sama Allah, aduh.. gimana sih?”. “Lho emang
pacaran salah ????”. “?!?!?!”


Sobat Muslim  perlu kita ingatkan bahwa dalam Islam ada batasan yang jelas mengenai pergaulan antar wanita dan lelaki. Terutama yang tidak memiliki hubungan mahrom. Pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan mahrom, tidak diperkenankan untuk berkhalwat (berdua-duaan) tanpa ditemani mahromnya, apalagi sampai pegangan tangan, bercanda-canda, dan lain-lain. Bukan karena apa-apa, memang si pandang-pandangan, jalan bareng dan pegangan tangan itu nggak bisa membuat perut seorang wanita membuncit, tapi disadari atau tidak itulah cara syetan mengelabui kita agar kita terjerumus menuju hal-hal yang lebih parah. Berawal dari memandang, terus cari nomer hp, kenalan, ketemuan, jalan bareng, akrab, pacaran, pegang-pegang tangan dan seterusnya. sampai terjadi perzinaan, naudzubillah min dzalik, oleh karena itu waspadalah terhadap hal yang paling sepele sekalipun agar kita tidak terjerumus pada yang lebih parah.

Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Tidak diperkenankan bagi laki-laki dan perempuan untuk berkhalwat (berduaan), karena sesungguhnya ketiga dari mereka adalah syetan, kecuali adanya mahram.” (HR. Ahmad dan Bukhari Muslim)

Dalam al qur`an, Allah bukan hanya melarang kita untuk berzina tapi melarang kita “mendekati zina” , perhatikan firman Allah SWT yang artinya berikut ini, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra : 32)

Deketin aja dilarang apalagi melakukannya? Untuk mencegah hal itu Allah mengajarkan banyak sekali metode pencegahan, seperti perintah memejamkan pandangan, menutup aurat, dan lain-lain.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur [24] : 30).

Interaksi dengan Lawan Jenis
Para pembela pacaran bilang, “lho Nabi juga pernah kok berduaan dengan wanita,
buktinya Nabi sering maen ke rumah Ummu Sulaim dan Ummu Harom padahal keduanya bukan istri Rasulullah. Bukan hanya itu, Nabi juga pernah tidur di rumah Ummu Sulaim, bahkan Ummu Sulaim sempat mengelapi keringat yang mengucur dari tubuh Nabi buat dijadiin minyak wangi (karena keringat Nabi tu lebih harum daripada parfum) dan Ketika bangun Nabi nggak marah tu?. Nah itu artinya kita boleh dong maen ke rumah cewe bukan mahrom.”

iih maksa banget deh ngambil dalilnya. Kalau mau memahami hadits dengan pemahaman yang baik nggak gitu caranya, kita harus kembali ke pemahaman para ulama, karena merekalah yang paling tahu tentang hal ini. Dalam masalah ini, Imam Nawawi dah bilang bahwa ulama sepakat bahwa Ummu Sulaim dan Ummu Harom adalah mahrom Rasulullah. Ulama cuma beda pendapat mahromnya dari segi rodho (susuan) atau apa bukan mahrom bukan jalur rodho aja, makanya Rasulullah sering maen ke sana.
Buktinya selain kedua orang itu Rasulullah tidak pernah memasuki Rumah wanita lain kecuali istrinya sendiri. Ada juga yang menambahkan Rasulullah sering mendatangi mereka sebagai bentuk rahmat pada keduanya, sebab saudara mereka berdua pernah gugur saat dapat tugas dari Rasulullah.
Trus ada lagi yang bilang, “Rasulullah pernah khalwat dengan perempuan bukan
muhrim !!!,”

dalilnya :
Ada seorang perempuan Anshar mendatangi Nabi saw. Lalu beliau berduaan dengannya dan bersabda, “Demi Allah! Sungguh kalian [orang-orang Anshar] adalah orang-orang yang paling aku cintai.” (HR Bukhari dan Muslim).

Jangan gegabah gitu dong, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan : 
1. Harus dijelaskan hadits wanita-wanita itu memiliki masalah yang
mau diadukan pada Rasulullah, bukan mau pacaran, atau bergurau. Kedudukan Rasulullah sebagai pemimpin yang baik menuntut agar beliau ikut andil menyelesaikan masalah umatnya tanpa memandang pria atau wanita.
2. Maksud berduaan di sini nggak seperti yang kalian bayangkan, tetapi Rasulullah menyepi agar mereka bisa bicara masalah privasi tetapi di dekat orang-orang, artinya tetp dilihat orang-orang.

3. Menurut komentar dari Imam Ibnu hajar, bahwa hadits di atas mengajarkan kita cara berkhalwat dengan non mahrom ketika kita ada hajat, (yaitu di tempat yang terawasi dan tak ada fitnah). Dan diakhir komenternya beliau menyimpulkan hendaknya kita tidak berkholwat dengan perempuan yang bukan mahrom kecuali ada keperluan yang mendesak.

Intinya semua haditst-hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil untuk pacaran karena, hadits-hadits yang dipakai untuk melegalkan pacaran adalah hadits-hadits di mana Rasulullah sedang memberikan solusi untuk wanita yang memiliki masalah bukan lagi “pacaran” atau canda-candaan . Sekedar Jabat Tabngan or Cipika-cipiki,
boleh??
Begini Sobat, Rasulullah SAW pernah ngingetkan kita tentang resiko hal ini,
“Sesungguhnya jika salah seorang di antaramu ditikam di kepalanya dengan jarum dari besi maka itu lebih baik daripada menyentuh seseorang yang bukan mahromnya.’ (HR. Tabrani).

Lihat tu, betapa mengerikan bahaya yang dimbulkan dari menyentuh lawan jenis
yang bukan mahrom. Ada juga hadits lain yang bunyinya gini, “Tangan Rasulullah SAW. tidak pernah sama sekali menyentuh tangan perempuan di dalam bai’at, bai’at Rasulullah dengan mereka adalah berupa ucapan.” (HR. Bukhari)

Dalam baiat saja yang ada perlunya Rasulullah ga pernah nyentuh wanita, apalagi
kalau nggak ada perlunya??. Tanyakan pada hati nurani kita, “Kita mau niru Rasulullah or niru Selebritis??”.
Ta`aruf dan khitbah.
“Trus gimana dong, masa ujug-ujug kita nikah ama perempuan tanpa tahu karakternya, ini sih sama aja dengan beli kucing dalam karung. kalau ga cocok gimana ???” Kata siapa Islam nyuruh gituan? Bahkan Islam begitu menganjurkan sebelum kita menikah, kita hendaknya mengenal calon kita dengan baik. Banyak sekali anjuran untuk memilih istri yang sholehah, subur, penyayang, berilmu, dan lain-lain. Tapi bukan dengan cara jalan bareng, pegang-pegang tangan, atau cium-ciuman, itu mah bukan belajar mengenal tapi pelampiasan nafsu, dan jelas-jelas bukan termasuk budaya Islam.
Trus gimana caranya kita mengenal calon kita ? Kalau masalah fisik kita dianjurkan melihat calon kita (Ta`aruf).

Hust, tapi hanya boleh lihat wajah dan telapak tangan aja, jangan yang laen. Trus kalau masalah akhlak kita dianjurkan untuk bertanya kepada kerabat calon kita mengenai si calon apakah baek atau nggak, rajin sholat atau belang, rapotnya item atau merah, lembut atau suka marah-marah, wah.. pokonya semua deh. Dan kerabat
wanita itu harus jawab dengan jujur, sampaikan apa adanya. Tenang aja, membicarakan aib si “calon” dalam masalah ini tidak termasuk ghibah yang harom kok. Nah kalau udah cocok tinggal kita pinang (khitbah) dia dengan BISMILLAH, (tambahin sedikit oleh-oleh buat nyenengin calon mertua.. he_he).

Habis itu Get Married!!, buruan nikah deh. Daripada pacaran model sekarang? wah…
repotnya minta ampun, jemput sini, jemput situ, beli ini beli itu, pegang-ini pegang itu akhirnya jadi ngawur semua.
Kesimpulan
Sobat muslim, perlu digaris bawahi bahwa Islam sama sekali tidak melarang kita
untuk mencintai dan mempunyai hubungan spesial dengan lawan jenis. Boleh-boleh aja dan Itu wajar kok, apalagi usia-usia remaja seperti kita yang hidup di zaman penuh godaan seperti saat ini. Tapi bukan berarti kalau wajar trus boleh kita lakukan semau kita, ada prosedurnya Bung!!!.

Gambarannya gini, kalau kita lagi puasa lha terus pas haus-hausnya kita lihat minuman atau hal-hal yang seger, wajar kan kalau kita pengin?.
Tapi sebagai muslim yang taat kita harus sadar bahwa sebelum adzan Maghrib berkumandang kita dilarang keras nyicipin itu minuman. Nah begitu pula dengan hal ini, wajar-wajar aja kalau kita suka atau naruh rasa pada lawan jenis yang kita kenal. 

Tapi hati-hati, kalau belum resmi menikah jangan coba-coba deh, bisa-bisa Allah marah besar sama perbuatan kita sebagaimana orang yang nekat mbatalin puasanya sebelum waktu berbuka.
Ibnu Abbas mengabarkan, seorang lelaki datang kepada Nabi Saw, lalu berkata, “Kami memelihara seorang gadis yatim. Ia dilamar oleh seorang lelaki miskin dan seorang lelaki kaya. Gadis itu lebih condong pada lelaki miskin, sementara kami condong pada lelaki kaya.” Kemudian Nabi Saw menjawab, “Tiada sesuatu yang lebih berharga bagi dua orang yang saling mencintai kecuali pernikahan.”
(Kisah ini terdapat dalam kitab KanzulUmmal, potongan terakhir diriwayatkan juga
oleh Ibnu Majah dan al-Hakim). Perhatikan sabda Rasulullah di atas,
“Tiada sesuatu lebih berharga bagi dua orang yang saling mencintai kecuali pernikahan.”, bukan pacaran dan bukan lainnya. Semoga Allah SWT senantiasa menuntun langkah kita untuk berpegang teguh kepada ajaran-NYA dan sunnah Nabi-Nya.
Selasa, 26 Maret 2013
Posted by as shofwah

Popular Post

Bener As - Shofwah

Bener As - Shofwah

At-Taqwa

At-Taqwa

Buletin Al ijtihadiy

Buletin Al ijtihadiy

Categories

Majlis Ta'lim Wal Maulid Al - Shofwah. Diberdayakan oleh Blogger.

Tags

Followers

- Copyright © Asshofwah -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -